DROPDOWN MENU

Gadget Text

TIPS & TRIK CARA MEMBUAT STIKER TIMBUL (DOME STICKER), MENGEPRINT STIKER VINYL/MIKA DENGAN PRINTER DESKTOP BIASA, DAN SERBA-SERBA MENCETAK GAMBAR DIGITAL DI KAOS

TERTARIK? SILAHKAN KLIK LINK 1 (STIKER TIMBUL), LINK 2 (PRINT DI VINYL/MIKA) DAN LINK 3 (CETAK KAOS DIGITAL)
INFO DAN KONSULTASI HUBUNGI 082139434212 ATAU VIA BBM PIN 54F48CC2

Rabu, 22 Februari 2012

Ikhlas Tidak Ikhlas

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang manfaat berbagi dan sedekah untuk meningkatkan kekayaan. Beberapa hari kemudian, ada pertanyaan yang menggelitik saya, dan terus terang saat itu saya belum menemukan penjelasan secara �rasional� dapat diterima sang penanya. Si penanya ini mengatakan, �Mengapa kita ibadah, berbuat baik atau bersedekah kok minta imbalan kepada Allah? Bukankah itu termasuk ibadah yang tidak ikhlas dan punya pamrih?�

Kemudian si penanya melanjutkan pertanyaannya, �Kalau mau ibadah, kalau mau sedekah, kalau mau berbagi, ya ibadah saja, sedekah saja, dan berbagi saja. Tidak perlu minta-minta imbalan sama Allah SWT, dan tidak perlu mengait-ngaitkan ibadah dengan kepentingan dunia�

Pertanyaan ini memang terlihat benar tapi ternyata belum tentu 100% benar. Maksudnya? Terlihat benar karena memang kalau kita beribadah, ya beribadah saja, biar Allah yang memberikan penilaiannya, biar Allah yang memberikan ganjarannya. Tapi pertanyaan ini belum tentu benar 100% karena bukankah kita juga boleh meminta kepada Allah karena itu perintah-Nya? Lagi pula, kalau kita tidak minta sesuatu kepada Allah, kita minta kepada siapa? Bukankah kalau kita minta selain Allah justru terjerumus pada kemusyrikan?

Nah, untuk penjelasan masalah ini, saya seolah mendapatkan pencerahan dari Ustadz Yusuf Mansyur melalui tulisan sebuah group diskusi di internet. Intisarinya sebagaimana dialog berikut ini:

(+) Terus terang, saya ini bingung dengan orang-orang diluar sana, karena mereka mengatakan, "Ibadah-ibadah saja... jangan minta-minta sama Allah. Tahajjud, tahajjud saja, jangan tahajjud karena pingin minta ini minta itu sama Allah. Atau, sedekah-sedekah saja, gak usah minta imbalan dari Allah. Masa sih sedekah karena pingin sesuatu? Orang-orang seperti inilah yang saya bingungkan�, kata Luqman.
(-) Loh, kenapa kamu ngeributin mereka-mereka itu? Bukannya mereka itu benar karena mengajarkan kemurnian ibadah?
(+) Emang... ada benarnya juga sih! Tapi kalau mengajarkan keikhlasan sambil menyekat hamba-Nya dari Allah, apakah masih bisa dibilang bagus?
(-) Tapi siapa yang menyekat? Kan mengajarkan keikhlasan?
(+) Trus apa dong sebutannya buat mereka yang melarang hamba-Nya meminta sama Allah? Apa itu bukan menyekat? Memberi dinding antara seorang hamba dengan Allah?
(-) Ya, enggak gitu dong....
(+) Enggak gitu gimana?
(-) Ini kan sekadar mengajarkan keikhlasan.....
(+) Guru saya pernah bilang, bila ada yang mengajarkan kebaikan, tapi di saat yang sama mengajarkan keburukan, itulah setan?
(-) Maksudnya?
(+) Ya, setan'kan masuk lewat pintu ilmu. Satu sisi mengajarkan perbuatan baik harus dilakukan dengan keikhlasan, tapi di sisi yang lain, seseorang tidak diperbolehkannya meminta sama Allah. Apa ini bukan kerjaan setan?
(-) Wah, ini mah...terlalu jauh. Masa menyamakan mereka yang berpendapat seperti itu seperti setan?
(+) Ya enggak sih. Tapi itu kan cara kerjanya setan. Halus banget!. Kita enggak berani ngebantah perkataan, "ibadah-ibadah saja, jangan minta-minta sama Allah" Iya kan? Enggak berani? Sebab kalau berani membantah berarti tidak ikhlas?
(+) Gini... boleh enggak meminta sama Allah? Boleh kan?. Meminta itu berdo'a bukan?
(-) Ya... sama dengan berdo'a
(+) Jadi... kalau begitu, boleh dong, berdo'a sama Allah?
(-) Ya, bolehlah... malah jadi ibadah kan?
(+) Terus... boleh enggak seseorang yang tidak ibadah meminta sama Allah? Maksudnya, boleh enggak seseorang yang tidak shalat misalnya, dia berdo'a kepada Allah?
(-) Ya... boleh saja dong... berdo'a kan tidak mensyaratkan apa pun, kecuali sebagai akhlak.
(+) Jadi, boleh nih...., seorang preman misalnya yang juga tidak sholat, berdo'a kepada Allah?
(-) Ya, boleh... meski dia tidak shalat, dia berhak berdo'a.
(+) Lah, lalu kenapa orang yang menempuh jalan tahajjud, menempuh jalan sedekah, tidak boleh meminta?
(-) Iya ya... kenapa jadi tidak boleh?
(+) Anda sendiri'kan yang bilang... sedekah-sedekah saja, tahajjud-tahajjud saja, jangan minta-minta sama Allah? Padahal, mestinya kalimat yang benar itu begini... "tidak tahajjud saja boleh meminta, apalagi tahajjud. Tidak sedekah saja boleh meminta, apalagi bila bersedekah"
(-) Oh... iya ya.. bener juga!.
(+) Ikhlas itu jangan dikaitkan dengan meminta. Bila seseorang meminta kepada Allah, jangan dikatakan tidak ikhlas dong?
(-) Lalu, mestinya dikatakan apa buat seseorang yang bersedekah lantaran dia susah?
(+) Kita bisa mengatakan, "Dia sedang menempuh jalan yang diberitahu Allah dan Rasul-Nya" Ketika Allah bilang bahwa Allah akan membantu siapa pun yang mau membantu sesama, lalu ada seseorang yang keluar dari rumahnya dan dia membantu orang lain karena dia ingin kesusahannya dibantu Allah, apa orang ini salah, apa orang ini tidak ikhlas? Bukankah ini berarti dia sedang mempraktikkan cara-cara Allah? Dan berarti dia dapat pahala tersendiri, yaitu pahala menjawab seruan Allah, pahala nurut sama Allah, pahala percaya sama Allah?.
(-) Tapi.... kayaknya masih enggak bener...
(+) Enggak bener gimana?
(-) Ya... ibadah'kan harusnya murni, ikhlas, tanpa minta-minta imbalan?
(+) Ya itu tadi... mungkin pemahaman ikhlasnya yang salah. Mestinya ikhlas itu tidak dikaitkan dengan do'a, dengan permintaan. Kasihan hamba Allah yang memang ingin sesuatu dari Allah, dan Allah memang membuka pintu-Nya kepada hamba-Nya yang mau menegakkan ibadah. Tapi, lebih kasihan lagi kepada orang-orang yang tidak tahu bagaimana caranya merayu Allah.
(-) Jadi, tetap disebut ikhlas nih, bila seseorang beribadah karena sesuatu dari Allah?
(+) Kalimatnya barangkali begini, orang itu punya tauhid yang bagus. Punya iman yang bagus. Karena dia percaya HANYA dengan cara yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya, lalu dia tempuh jalan itu. Secara sederhananya, disebut tidak ikhlas itu kalau ia ngomongin amal pribadinya ke kiri dan ke kanan, kepada siapa saja, dengan maksud riya atau sombong, sum'ah atau berbangga diri. Kalau ke Allah itu namanya do'a, harapan, permintaan, munajat. Saya percaya sama Allah. Percaya sama cara-cara-Nya Allah. Allah bilang, kalau mau begini, harus begitu. Kalau mau begitu, harus begini. Lalu saya ikutin itu. Ini namanya tunduk, patuh, dan taat. Sekali lagi, ini namanya keutamaan dari percaya sama Allah.

Allah suka dengan hamba-Nya yang banyak meminta. Supaya tetap terhubung dengan Allah, maka jadilah orang-orang yang senantiasa butuh sama Allah. Salah satu caranya adalah dengan banyak meminta kepada Allah. Dikabulkan yang satu, minta lagi yang lain. Terus begitu. Enggak apa-apa. Mestinya seseorang yang merasa perlu sama Allah tidak menghentikan ibadahnya, tidak menghentikan do'anya, melainkan dia terus-menerus memelihara ibadahnya dan terus-menerus berdo'a. Allah senang bila hamba-Nya mau meminta pada-Nya. Allah tidak akan pernah merasa keberatan dan tidak akan pernah merasa bosan bila ada hamba-Nya yang meminta dan meminta terus.

Percayalah... kepada Allah mah jangan takut meminta, apalagi jika Anda punya amal yang hebat, Anda disayang Allah. Memintalah, maka Allah akan memenuhi apa yang kita minta.

"... Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku..." (QS. al-Baqarah: 186)?

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. al-Baqarah : 186)

Justru bila ada hamba-Nya yang tidak mau meminta, itu aneh. Minta saja sama Allah, minta ampunan Allah, minta cinta dan kasih sayangnya Allah, minta ridha dan perlindungan-Nya, dan seterusnya. Pokoknya sama Allah mah minta...minta... dan minta... terus meminta. Tentu saja, akan lebih baik bila permintaan bertambah, ibadah juga bertambah.

Jadi, memintalah kepada Allah. Sebab meminta itu adalah ibadah seorang hamba kepada Allah, Khaliqnya. Begitulah urusan ibadah dan minta-minta kepada Allah. Lagi pula, kalau kita tidak minta sama Allah, lalu minta kepada siapa? Sebab yang namanya pamrih, itu kalau kita berbuat sesuatu bukan karena Allah, tetapi karena manusia. Jadi sekali lagi, bersedekahlah, berbagilah, dan berdo�alah kepada Allah! Wallahu�alam bisshawaab


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungan Anda. Jangan lupa berkomentar ya......